Buku [un]affair: Kota Sendu dan Ketidakpastian Rasa
M. Lukluk Atsmara Anjaina
- Belajar Mengulas
Buku -
Identitas Buku:
Judul Buku : [un]affair
Pengarang : Yudhi Herwibowo
Penerbit : BukuKatta
Tahun Terbit : 2014
Jumlah Halaman : 172 Halaman
Membaca buku ini
akan membawa kita pada sebuah kolam renang cinta, dimana terdapat air,
plosotan, pelampung dan mainan anak-anak. Kita dipersilahkan untuk memilih
apapun yang kita sukai atau paling tidak yang kita ingin mainkan. Jika memilih
bermain air, maka kita akan terlarut dalam cerita yang barangkali kita tak
kuasa untuk menjeda alur cerita. Atau barangkali kalau kita memilih plosotan,
maka kita akan mengikuti alurnya dengan berbagai jeda yang tersedia. Atau
barangkali lagi kalau kita hendak memilih pelampung dan bermain-main, maka
hanya kesenangan yang kita dapatkan.
Semuanya
tentu tergantung bagaimana kita, sebagai pembaca dapat menikmati dan meresapi
keutuhan cerita tanpa ada yang hilang dan tanpa tekanan sekalipun. Namun,
kiranya kita perlu waktu yang cukup panjang dan tenang untuk benar-benar
menyelesaikan membaca buku ini jika kita hendak berperan sebagai penikmat
sebuah bacaan, bukan sekadar hiburan atau mengisi waktu luang.
Sebab,
sebuah karangan utamanya novel dan cerita selalu terinspirasi oleh pengalaman
atau realita sebuah kehidupan. Yang tentu sudah diproses dalam dapur dengan
menyesuaikan pasar sehingga realita dalam sebuah karangan tidak bisa sama
dengan realita di dunia nyata. Realitas dalam sebuah karangan adalah realita
rekaan yang tidak sama dengan sumber inspirasinya.
Awal
membaca buku ini sebenarnya ada ketakutan tersendiri dalam diri. Bagaimana
tidak? melalui judul yang barangkali mempengaruhi kita pada batasan usia membaca.
Dan secara otomatis, buku ini seperti memang merambah pasar usia 18 tahun
keatas. Affair dalam Bahasa Indonesia berarti perselingkuhan. Hanya terdapat
imbuhan misterius yang membuat diri semakin penasaran terhadap isi cerita dalam
buku setebal 172 halaman ini. Kata Affair yang diawali kata ‘misterius’ Un yang
bila diartikan dalam Bahasa Indonesia menjadi tidak adil.
Buku
ini secara garis besar mengambil sebuah tema mengenai percintaan. Memang terasa
sangat klise bagi siapa saja yang telah beberapa kali khatam perihal buku-buku
berlatar cinta. Tetapi, seolah semua dibantah oleh penulis dengan memunculkan
kebaruan dan ketidaklaziman dalam cerita ini.
Keterwakilan Pembaca dan Bahasa Puitis
Lembar demi lembar
terbaca perlahan, setiap kata benar-benar sudah dieja sedemikian paham. Lewat
sebuah penyampaian yang mudah diterima, pembaca sontak mengetahui bagaimana
penulis benar-benar memahami perasaan seorang laki-laki pada umumnya ketika
menjalin suatu hubungan atau paling tidak mafhum bagaimana seorang laki-laki
dalam posisi yang sedemikian rupa.
Tak
dapat dipungkiri bahwa sebuah novel selalu terinspirasi terhadap realita dalam
kehidupan nyata. Meskipun, terkadang inspirasi tidak datang dari pengalamannya
melainkan dari pengalaman orang lain yang diketahuinya. Penulis buku ini
betul-betul meresapi setiap kejadian yang dikisahkan sehingga menjadi doktrin
bagi pembaca untuk mengajak air matanya, perasaannya atau bahkan senyum di
bibirnya dalam membaca buku ini.
Lihat
saja di hal. 51 di paragraf keempat, // Sedikit
aku berdebat pada diriku, apakah aku yang harus memulai mengirim pesan padanya,
atau menunggunya? Kalau aku harus memulai, kalimat apa yang pas untuk membuka
pembicaraan ini?//. Tepat sekali penulis mengutarakan apa yang sering
laki-laki gelisahkan ketika tak ada pembicaraan dalam ruang obrolan atau pesan
dalam ponselnya. Terlihat dengan jelas bagaimana kegelisahan hingga
berkali-kali musti membuka ponselnya lalu mengurungkannya lagi, berdebat dengan
dirinya sendiri.
Penulis
benar-benar mengalami apa yang banyak laki-laki juga alami, penulis seolah
mewakili perasaan pembaca yang barangkali memiliki kisah yang serupa. Belum
lagi dalam cerita-cerita selanjutnya, bagaimana seorang laki-laki sangat merasa
bersalah dalam salah satu keputusan. Bahkan, bagaimana posisi seorang laki-laki
dalam sebuah problem dengan kekasihnya. Semuanya diungkapkan dengan tepat oleh
penulis untuk mewakili kalangan pembaca laki-laki.
Selain
itu, pengungkapan sebuah cerita oleh penulis memiliki caranya masing-masing
dengan menyesuaikan kondisi ‘pasar’ yang ditemuinya. Sepertinya penulis memilih
bahasa puitis yang cenderung mudah diterima dalam mengisahkan ceritanya, bahasa
puitis yang ringan. Tetapi penulis juga terkesan mendramatisir keadaan melalui
sebuah pengungkapannya. Entah memang seharusnya seperti itu atau sudah menjadi
ciri khas dalam banyak kisah. Baik ketika kisah bersama mantan kekasihnya
maupun perempuan yang ‘dikaguminya’ kini.
Perempuan dan Rasa yang Samar
Sebuah kisah
percintaan hampir tidak mungkin tidak melibatkan seorang tokoh perempuan,
begitupun dalam buku ini. Bahkan dari dua kisah cinta yang secara tidak
langsung diungkapkan dalam buku ini melibatkan tiga orang tokoh perempuan, yang
masing-masing mewakili karakternya sendiri.
Perempuan
memang makhluk yang cenderung ‘misterius’. Perasaannya sangat samar dan sukar
ditebak. Bagai angin yang tak pernah bisa ditebak kemana akan berlarian setelah
ini. Kehadiran tokoh perempuan yang secara misterius rupanya mewarnai kisah
dalam buku ini. Dimana tokoh ini dimunculkan dalam sebuah ‘drama’ saling
berpapasan ketika melintas sebuah rel kereta api, yang kemudian secara tidak
sengaja datang pada sebuah tempat kerja dengan maksud menggunakan jasanya.
Hingga
pada suatu kisah yang sudah terlampau dalam, perempuan dimunculkan dalam
perasaan yang amat misterius, tak bisa ditebak oleh tokoh utama. Seperti // “Aku baik-baik saja,” ujarnya. “Semua
baik-baik saja. Aku hanya ingat…kejadian tadi. Kejadian sebelum aku kemari.”//
(h. 78). Kalimat itu bukan merupakan kalimat yang mengejutkan banyak laki-laki.
Dimanapun seorang perempuan selalu mengatakan baik-baik saja. Dan itu sama
seperti apa yang dikisahkannya dalam buku ini.
Tokoh perempuan
satu ini tak pernah sama sekali menceritakan kesedihannya yang dilihatkan
kepada laki-laki ketika ia mendatangi kontrakannya. // “Lalu… kenapa engkau tak mengatakannya padaku selama ini?’’ / Arra
menoleh padaku. Menatapku sejenak. / “Tentu saja aku tak bisa mengatakan
padamu,” ujarnya. / ….. / “Karena…mungkin…” ia terdiam sejenak, “engkaulah
penyebabnya!” // (h. 136)
Begitupun
terjadi pada perempuan mantan kekasihnya, yang berpisah tanpa ada kata
pengakhiran hingga kedatangannya menyusul ke kota tokoh utama dengan alasan
tempat kerjanya membuka cabang disana. Tak lupa juga dengan perasaannya yang
sebenarnya tak pernah benar-benar padam dari lubuk hatinya.
Kota Sendu dan Ketidakpastian Rasa
Tidak dapat
dipungkiri setiap kisah memiliki sebuah latar yang unik, dimana ada saja
hal-hal yang tidak bisa lepas dari pandangan seorang penulis dalam mengisahkan
sebuah ‘ruang’. Terkadang, sampai hal-hal yang teramat detail sekalipun.
Perihal jumlah semut yang lewat atau perihal jumlah daun-daun yang berguguran
misalnya. Begitupun dalam buku ini, penulis menggambarkan sebuah ‘ruang’ dengan
sangat mendetail.
//
…… , aku malah merasa semakin mengenal
kota. Sepuluh langkah untuk sebuah lampu, sepuluh langkah berikutnya untuk
sebuah tempat sampah, sepuluh langkah berikutnya lagi untuk sebuah kursi taman.
Ini seperti sebuah permainan yang menyenangkan. Ada kalanya baru Sembilan
langkah saja kita sudah mendapati lampu, tempat sampah ataupun kursi taman.
Namun kadang kita butuh sebelas langkah untuk itu. Hingga kemudian aku hapal
lampu, tempat sampah dan kursi taman mana yang memiliki anomaly langkah // (h.110)
Sungguh,
penggambaran sebuah ruang yang sangat-sangat mendetail. Belum lagi perihal
bangunan-bangunan dipinggir jalan, paving-paving trotoar, dan orang-orang yang
sering mendiami suatu tempat, bisa kita jumpai dalam buku ini. Semua akan
dengan mudah kita bayangkan bagaimana latar yang paling tidak mendekati
sempurna pemikiran penulis.
Tentu
tak terlewat bagaimana curah hujan disana, yang barangkali hampir sama sekali
hujan tak pernah alpa. Sebuah kota yang teramat syahdu, teramat sejuk dan segar
dengan kedatangan musim hujan, yang selalu dikait-kaitkan dengan sebuah keadaan
yang pilu, yang sedu.
Di
kota ini pula, tokoh utama menjalin sebuah hubungan yang tanpa ada kata
mulaipun terucap. Kota yang mengisahkan pertemuan dengan perempuan di sebuah
perlintasan rel kereta api, berlanjut di tempat kerja. Juga mengisahkan
perjumpaan tak sengajanya pada sebuah kafe yang menjadi penanda bermulainya
sebuah kisah cinta. Sebagai awal perkenalan yang kemudian menidurkannya dalam
sofa usang di kontrakannya berkali-kali dengan suasana hati sama sekali tak
bahagia.
Kota
sebagai saksi perpisahan oleh karena sebuah pernikahan yang sama sekali tak
pernah terjadi sebenarnya dan sekaligus pertemuan (kembali) dengan mantan
kekasihnya bersama rasa masih tumbuh dalam pekarangan hatinya. Bersamaan dengan
perasaan yang mulai tumbuh semakin besar, seorang perempuan yang hampir selesai
dilupakannya datang. Menjelaskan perasaan selama ini kepadanya.
Disinilah,
kemudian sebuah perasaan tak bisa dikendalikan. Bagaimana ketidaktuntasan dan
ketidakpastian perasaan terhadap perempuan yang hampir dilupakannya, oleh sebab
kedatangan mantan kekasih dengan perasaan belum pernah padam. Bagaimana membagi
sebuah rasa kepada dua perempuan yang berbeda. Bagaimana seorang laki-laki
menjaga keadilan rasa.
Ketika semua
hendak membaik, dengan sangat terpaksa perpisahan harus direncanakan. Perempuan
yang hendak mengalah dan memilih untuk meninggalkan kota. Hingga akhirnya,
sebuah penantian perpisahan di sebuah bandara tidak pernah terjadi oleh sebab
kecelakaan tragis yang dengan tidak sengaja dibawa di Rumah Sakit tempat mantan
kekasihnya bertugas.
Kota Sendu,
sebuah kota yang seakan menjadi tanda akan perpisahan dengan semuanya. Dengan
sahabatnya, mantan kekasihnya, dan perempuan yang ditunggunya. Sebuah kisah
yang diakhiri oleh keterkejutan mantan kekasih menemui pasien dengan buku yang
hendak meriwayatkan tokoh utama dan kemudian memberikan penjelasan kepadanya
sekaligus perpisahan untuk kesekian kalinya.
Buku itu, hingga
kini tak pernah dikembalikan. Seakan memberi pertanyaan kepada pembaca dimana
letak Affair yang sebenarnya? // … cinta yang tak pernah dimiliki seutuhnya,
bertahan lebih lama. // (h.154). Selamat membaca.


Komentar
Posting Komentar