Selamat Datang, Selamat Berproses, Selamat Nga(w)ur.


Barangkali adalah hal biasa yang dilakukan oleh manusia waras akan ketidakmampuannya dalam mengingat dan mengabadikan berbagai hal, dalam agenda apapun dan maksud bagaimanapun. Begitupun diri ini, beriktikad dalam proses yang sederhana dengan mencumbui dunia per-blog-an, sebagai media dalam upaya mengabadikan keabadian.

Kelahiran blog ini sebenarnya telah terjadi sejak Mei 2014 silam, dengan nama Lukluk Anjaina, oleh sebab hasrat awal ketika mulai menekuni menulis puisi. Pada awalnya, blog ini berisi seputar informasi-informasi atau artikel mengenai sastra dan budaya dengan gaya khas blog anak kecil. Seiring berjalannya waktu, blog ini berisi tugas-tugas sekolah yang terkadang memberatkan hati untuk sekadar meng-copy paste dari blog-blog yang bertebaran. Oleh sebab itu, akhirnya seluruh tugas-tugas sekolah yang berkaitan dengan karangan dan tulisan terekspos di blog ini sekaligus menjadi media bagi kawan sejawat atau letting bawah (adek kelas) untuk mengakses tugas yang diberikan guru.

Sampai pada akhirnya, blog ini menjadi tujuan pembaca kalangan sekolah menengah pertama untuk sekadar menjadikan referensi sebagian maupun utuh. Tetapi, pada akhirnya berujung pada kebosanan dan berhenti pada titik paling jenuh untuk merawat blog dengan memperlakukannya seperti anak sendiri, disambangi setiap waktu.

Tepat pada Mei 2015, atau setahun genap usia blog ini, diri memutuskan untuk meninggalkan blog ini sendirian, bersama dinding-dinding dan pintu using yang tak pernah sekalipun terkunci. Kemudian di sekitar tahun 2016 ada beberapa konten dan tulisan yang sengaja dihapus tanpa dalih dan alasan apapun. Sehingga, hanya tersisa beberapa tulisan yang paling banyak dibaca oleh masyarakat maya.

Dan, tepat hari ini, 8 Februari 2019, blog yang telah lama tinggal sendirian kembali hidup bersama pemiliknya yang mulai tersadar akan pentingnya sebuah keabadian. Setelah kurang lebih 1 tahun berkecimpung dan menggelandang bersama kawan-kawan di Kota Kelahiran, ada banyak persoalan dan pertimbangan yang menyebabkan harus merawat kembali blog ini, dengan usia hampir 5 tahun.

Mengikuti falsafah jawa perihal mengganti nama anak bila dikemudian hari ditemukan ketidakcocokan terhadap apa yang sudah semestinya cocok, akhirnya diputuskanlah pergantian nama blog ini menjadi RUANG NGA(w)UR, dengan harapan semakin sehat dan memiliki semangat yang penuh hikmat.

Ada beberapa pertimbangan perihal pemilihan nama ini. Ruang Nga(w)ur sendiri jika diartikan secara ngawur berarti ruang untuk hal-hal yang ngawur atau sembarang atau apa saja yang dikehendaki. Namun ada hal yang lebih dari itu dalam pemilihan nama, dimana huruf ‘w’ yang sengaja diselipkan dalam kata ngaur (Bahasa Jawa) atau mengaur dalam Bahasa Indonesia. Berasal dari kata ‘Aur’ yan artinya tabur, diri ini hendak menabur apa saja yang kiranya dapat diabadikan dalam blog ini. Imbuhan huruf ‘w’ untuk mempertegas bahwa yang hendak ditabur adalah apa saja, yang tentunya dapat menuai manfaat dan keabadian.

Secara umum, Ruang Nga(w)ur ini berupaya untuk menjadi ruang kreatif yang dapat menebar perihal apa saja, entah itu puisi, esai, resensi, artikel, gambar maupun karangan lepas lainnya yang tentunya menjadi hal paling abadi dalam hidup yang tiada berarti. Terima kasih. Selamat membaca, menikmati dan menebar apa saja.

Kendal, 8 Februari 2019
M. Lukluk Atsmara Anjaina

Komentar

Postingan Populer