Pengunduran Diri Belva dan Nasib Keberlanjutan Cipta Nyata

Tangkapan layar program Cipta Nyata-Belva Devara pada situs ciptanyata.com

Beberapa hari yang lalu, seorang kawan diskusi membuka obrolan perihal ramainya pembicaraan warganet mengenai surat dengan kop Sekretariat Kabinet yang ditujukan kepada Camat se-Indonesia yang ditandatangani oleh salah satu Staf Khusus Milenial Presiden Joko Widodo, Andi Taufan Garuda Putra. Lebih lagi, surat yang ditandatangani Andi tersebut berisi permohonan kepada Camat seluruh Indonesia terkait kerja sama penanganan dan pencegahan Covid19 dengan PT. Amartha Mikro Fintek, yang mana merupakan perusahan milik Andi sendiri.

Banyak warganet yang mengkritisi bahkan mengecam keras apa yang dilakukan Andi Taufan. Warganet menganggap bahwa Andi telah menyalahgunakan wewenang karena menggunakan kop resmi institusi negara hingga konflik kepentingan terkait perusahan miliknya. Apa yang menimpa Andi itu tampaknya mengingatkan warganet akan berbagai persoalan yang menimpa Staf Khusus Milenial Presiden Joko Widodo yang lain sebelum-sebelumnya.

Sejak awal dikenalkan ke publik oleh Presiden Joko Widodo 21 November 2019 lalu, Staf Khusus Milenial banyak mendapat sorotan dari berbagai kalangan. Apalagi, belakangan muncul berbagai kecerobohan Staf Khusus yang terlalu terburu-buru dalam mengambil tindakan. Mulai dari persoalan cuitan stafsus di media sosial, stafsus yang menyebarkan hoax terkait pandemi sampai stafsus yang diketahui masih menjabat sebagai pimpinan perusahan.

Namun demikian, kasus surat yang menimpa Andi bisa dibilang sebagai kasus paling serius yang akhirnya mengingatkan kembali kepada persoalan Belva Devara. Dimana warganet kembali mengungkit bagaimana proses ditunjuknya Skill Academy yang merupakan anak usaha dari Ruang Guru, milik Belva Devara sebagai platform resmi yang bermitra dengan pemerintah dalam program Kartu Pra Kerja bersama 7 mitra lainnya, seperti, Tokopedia, Bukalapak, Pintaria, Mau Belajar Apa, Pijar Mahir, Sekolahmu, dan Sisnaker.

Ditunjuknya Skill Academy sebagai platform resmi yang bermitra dengan pemerintah dinilai berpotensi menimbulkan konflik kepentingan, dimana posisi Belva Devara sebagai Stafsus Milenial Presiden sekaligus sebagai pimpinan perusahaan rintisan Skill Academy. Apa yang dikhawatirkan warganet sebenarnya cukup bisa diterima melihat posisi yang sedemikian. Tetapi, perlu kita lihat bersama seberapa pantas 8 perusahaan tersebut, wabil-khusus Skill Academy sebagai mitra pemerintah dalam program Kartu PraKerja.

Sepanjang saya mengikuti anjuran pemerintah untuk #dirumahaja, saya seringkali mencari beberapa kelas-kelas online yang ditawarkan berbagai platform maupun komunitas secara gratis. Dan kebetulan, akhir bulan Maret lalu, saya sedikit tertarik dengan tawaran cuma-cuma dari Skill Academy, yang menggratiskan seluruh pilihan kelas di dalamnya sampai akhir bulan Maret, yang kemudian diperpanjang hingga tanggal 3 April kemarin. Bagaimana tidak, setiap kelas pelatihan yang biasanya dipatok harga ratusan hingga jutaan itu kini digelar secara gratis.

Sebagai anak yang memiliki ambisi tinggi, tentu saya memanfaatkan kelas gratis yang disediakan Skill Academy hanya dengan memasukkan kode voucher KELASGRATIS. Tidak tanggung-tanggung, ada 4 kelas yang saya ikuti dengan menggunakan beberapa akun milik adik dan kakak saya secara bergantian. Semata-mata untuk menambah pengetahuan dan softskill saya di bidang-bidang tertentu.

Skill Academy, sejauh saya ikuti cukup pantas mendapatkan kepercayaan dari pemerintah untuk memberikan pelatihan online bagi calon-calon pekerja yang mengikuti program Kartu PraKerja. Penilian pantas dari saya ini bukan semata-mata hanya karena sosok Belva Devara dengan prestasinya, tetapi juga pemilihan mentor di platform pelatihannya yang tidak asal pilih, atau meminjam istilah sekarang, tidak kaleng-kaleng. Hingga pada akhirnya, saya menyimpulkan bahwa, masyarakat kita belum siap dengan segala aktivitas dan pelatihan yang digelar dengan konsep online.

Jika persoalannya adalah berpotensi menimbulkan konflik kepentingan, toh setiap calon pekerja bebas memilih platform yang menurutnya sesuai. Kemudian tinggalkan saja Skill Academy dan pilih platform yang lain. Beres kan? Oh belum selesai, rakyat saat ini butuh uang dan materi bukan pelatihan yang ditawarkan pemerintah. Kalau memang persoalannya demikian, kenapa pada akhirnya warganet menyudutkan Belva Devara? Atau kalau boleh saya bilang, untuk mendapatkan duit yang banyak, perlu kecakapan yang layak. Dengan demikian, setiap saldo yang digunakan untuk mengikuti kelas-kelas pelatihan tersebut yakinlah akan berguna kedepannya. Toh masih ada sisa saldo yang bisa digunakan untuk membantu kebutuhan sehari-hari.

Warganet kita selalu dibawa pada pemikiran negatif terhadap segala sesuatu tanpa melihat dampak yang terjadi atau latar belakang yang lainnya. Pernahkah kita memikirkan bagaimana dampak psikologi dan sosial yang dialami setiap orang atau tokoh yang dihujat atau dikritisi habis-habisan? Tidakkah kita memikirkan bagaimana dampaknya terhadap mental, dan kita tidak pernah melihat seberapa prestasi yang pernah tercapai? Masyarakat kita memang selalu menutup beribu kebaikan dengan satu keburukan dan tidak pernah melihat seberapa besar kontribusi kita untuk negara.

Meminjam peribahasa, nila setitik rusak susu sebelanga, barangkali tepat untuk seorang Belva Devara di mata warganet kita. Posisi Belva sebagai Stafsus Milenial yang masih mempertahankan Ruang Guru menjadi sesuatu yang dinilai sangat buruk dihadapan warganet maupun publik, lebih-lebih terkait Skill Academy. Barangkali pula benar kata pepatah, semakin tinggi sebuah pohon, semakin kencang pula angin yang akan menerjangnya. Begitulah yang sedang dihadapi oleh Belva Devara, salah satu putra terbaik bangsa, dengan berbagai prestasi yang barangkali sudah tidak diragukan lagi.

Ujian yang dihadapi Belva nampaknya tidak berhenti begitu saja, dengan kerendahan hatinya, ia memutuskan untuk mengundurkan diri dari lingkaran Istana sebagai Stafsus Milenial dan dikabulkan oleh Presiden Joko Widodo. Belva yang memilih menghadapi ujian dengan mundur masih mendapatkan kritikan pedas dari warganet.

Hingga pada tangal 22 April 2020 dini hari, nama Belva Devara dan Ruang Guru masih menjadi trending topic di jagat media sosial Twitter. Tidak banyak warganet yang menghujat Belva dengan kata-kata bernada sinis dan menganggap Belva mengundurkan diri selepas perusahaannya mendapat kepercayaan atas proyek pemerintah dan lain sebagainya.

Yang menarik adalah, beberapa Warganet yang melontarkan tidak akan memuji Belva meski sudah memutuskan untuk mundur dari lingkaran Istana. Mereka lupa akan siapa dirinya dan apa dampaknya ketika mereka memuji Belva. Saya kira, Belva adalah milenial yang dipuji tidak terbang, dihujat/dihina tidak tumbang. Saya kira pula, Belva tidak memerlukan pujian-pujian atas pengunduran diri yang dilakukannya.

Mendengar kabar mundurnya Belva Devara dari Stafsus Milenial sore tadi, 21 April 2020 melalui notifikasi dari Line, saya jadi teringat ketika awal diumumkannya Stafsus Milenial oleh Presiden Joko Widodo. Bagaimana komitmen seorang Belva Devara yang akan menyumbangkan seluruh gajinya sebagai Stafsus untuk membantu mengembangkan bisnis UMKM di Indonesia.

Melalui program barunya, Cipta Nyata, Belva memberikan kesempatan untuk pelaku bisnis UMKM di Indonesia untuk mengembangkan bisnis UMKMnya tersebut. Dimana setiap bulan, Belva akan memilih dua orang yang akan menerima bantuan sebesar 20 juta rupiah setelah melalui seleksi bersama timnya, sesuai dengan tema dan kriteria setiap bulannya.

Dari situs resmi ciptanyata.com dan akun Instagram @ciptanyata, kita bisa menilai seberapa serius Belva dalam menepati janjinya dan mengembangkan bisnis UMKM di Indonesia. Setidaknya, sudah ada 6 UMKM yang beruntung mendapatkan kucuran bantuan dari gaji Belva. Dimana 6 UMKM ini bisa kita lihat portofolio dan profilnya di Instagram @ciptanyata, mulai dari pemenang bisnis UMKM Kategori Fashion, Makanan, Teknologi hingga Social Entre-preunership.

Kini, Belva Devara telah resmi mengundurkan diri dari Stafsus Milenial Presiden dan program Cipta Nyata merupakan program yang seharusnya memiliki ketergantungan kepada jabatan Belva Devara sebagai Stafsus. Karena Cipta Nyata memang diciptakan untuk menyalurkan gaji Belva sebagai Stafsus tersebut. Lantas, bagaimana nasib keberlanjutan Cipta Nyata yang memasuki bulan keempat berjalan ini? Akankah harapan-harapan pebisnis UMKM terhadap program Cipta Nyata pupus? Tentu ini bisa kita lihat dan nilai dari seberapa tulus Belva dalam mengembangkan UMKM.

Yang jelas, Belva Devara adalah orang yang rendah hati dan berjiwa besar. Tentu, dengan ‘kegagahan’ RuangGuru dan Skill Academy, saya kira Belva masih punya banyak pilihan yang terbaik diantara pilihan-pilihannya dan Belva tidak mungkin membiarkan Cipta Nyata mandeg begitu saja. Tetapi, bagaimana nasibnya harus kita buktikan dan saksikan bersama dari pernyataan resmi Belva, panggilan akrab Adamas Belva Syah Devara.

Kendal, 22 April 2020

Komentar

Postingan Populer